Friday 20 February 2026 - 15:54
Hikmah Nahjul Balaghah | Pelajaran Mengelola Kemiskinan dan Kekayaan

Hawzah/ Artinya, hakikat kemiskinan dan kekayaan—sebagaimana hakikat segala sesuatu—akan terungkap di akhirat, saat kita berdiri di hadapan Allah dan menyerahkan seluruh milik kita kepada-Nya. Pada saat itulah akan tampak siapa yang benar-benar miskin dan siapa yang benar-benar kaya.

Berita Hawzah – Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam dalam Hikmah ke-68 Nahjul Balaghah bersabda:

«الْعَفَافُ زِینَةُ الْفَقْرِ، وَ الشُّکْرُ زِینَةُ الْغِنَی»

“Menahan diri adalah perhiasan kemiskinan, sedangkan syukur adalah perhiasan kekayaan.”

Penjelasan:

Mungkin pada pandangan pertama, kefakiran dan kekurangan harta tampak sebagai perkara yang tidak menyenangkan, dan sebaliknya, kekayaan dan harta dianggap hal paling disukai oleh manusia. Namun, hakikat sesungguhnya adalah: kefakiran membutuhkan perhiasan, dan jika seorang fakir menghiasi dirinya dengan perhiasan itu, maka kekayaan (yang hakiki) akan meliputi seluruh hidupnya. Sebaliknya, kekayaan dan berlimpahnya harta juga membutuhkan perhiasan, dan jika orang kaya tidak menghiasi dirinya dengan perhiasan itu, maka kefakiran dan kekurangan (yang hakiki) akan menyelimuti seluruh hidupnya. Oleh karena itulah, Imam Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam menjadikan ‘afaf (menahan diri) dan qanā'ah (merasa cukup) sebagai perhiasan kefakiran, dan rasa syukur (nikmat) sebagai perhiasan kekayaan. Untuk memahami bagaimana cara kerja perhiasan-perhiasan ini, kita kembali merujuk pada sabda Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam.

Beliau, mengenai 'afaf (menahan diri) dan qana'ah (bersikap cukup)—yang merupakan hiasan bagi orang miskin—bersabda:

«الْقَنَاعَةُ مَالٌ لَا یَنْفَدُ»

" Kepuasan (Qana'ah) adalah harta yang tak berkurang." (Hikmah ke-57)

Dengan demikian, seorang fakir yang bersikap cukup (qana'ah), meskipun secara lahiriah tampak miskin, sesungguhnya ia telah berhias diri dengan harta dan kekayaan yang tak pernah habis.

Demikian pula mengenai rasa syukur—hiasan bagi kekayaan dan kemakmuran—beliau bersabda:

«شُکْرُ اَلنِّعْمَةِ أَمَانٌ مِنْ تَحْوِیلِهَا وَ کَفِیلٌ بِتَأْیِیدِهَا»

"Syukur atas nikmat memberikan keamanan dari hilangnya nikmat tersebut, dan penjamin untuk kelestariannya." (Ghurar al-Hikam, jilid 1, halaman 406)

Beliau juga bersabda:

«شُکْرُ اَلنِّعْمَةِ أَمَانٌ مِنْ حُلُولِ اَلنِّقْمَةِ»

"Syukur nikmat adalah jaminan keamanan dari turunnya azab (dan murka) Ilahi." (Ghurar al-Hikam, jilid 1, halaman 407)

Oleh karena itu, jika seorang kaya—yang memiliki harta berlimpah—tidak menghiasi dirinya dengan sifat syukur, ia akan menghadapi salah satu dari tiga akibat: hilangnya nikmat, musnahnya nikmat, atau menimbulkan kemurkaan Allah. Dan sebagai penutup, marilah kita dengarkan sekali lagi sabda dari lisan yang penuh berkah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam. Beliau bersabda:

«اَلْفَقْرُ وَ اَلْغِنَی بَعْدَ اَلْعَرْضِ عَلَی اَللَّهِ سُبْحَانَهُ»

"Fakir dan kaya (yang hakiki) baru bermakna setelah (semua amal) dihadapkan kepada Allah Yang Mahasuci." (Ghurar al-Hikam, jilid 1, halaman 83)

Artinya, hakikat kemiskinan dan kekayaan—sebagaimana hakikat segala sesuatu—akan terungkap di akhirat, saat kita berdiri di hadapan Allah dan menyerahkan seluruh milik kita kepada-Nya. Pada saat itulah akan tampak siapa yang benar-benar miskin dan siapa yang benar-benar kaya.

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha